Tak ada romatis
rinai hujan yang panjang hari ini, hanya gerimis yang sempat datang tadi pagi
mengetuk hari dengan malu-malu. Aku cemburu pada udara dingin yang menyentuh
kulitmu, layaknya matahari yang cemburu pada embun pagi, yang duluan mengecup
tanah ketimbang sinarnya.
Aku malu-malu
mengetuk ruang H101 hari ini karena telat bukan kepalang. Aku mengutuk macet di
tugu adipura yang panjangnya membuat aku bisa menceritakan kisah Gajah Mada
menyelamatkan Jayanegara saat pemberontakan Ra Kuti hingga tamat. Lebih
memalukan lagi saat aku lihat kamu di bawah pohon itu tersenyum melihat aku
ragu memilih masuk ke kelas atau tidak. “Lelaki tak tegas” mungkin pikirmu,
tapi setidaknya kau tersenyum.
Hari ini Anas
Urbaningrum, mantan ketua demokrat yang mendirikan organisasi Perhimpunan
Pergerakan Indonesia (PPI) menolak datang ke KPK. Ternyata bukan hanya saya
yang meragu, Anas pun demikian, sempat dia berujar berani menghadapi apa saja,
kini dipanggilpun dia enggan, ah manusia lain kata dan perbuatan. Apakah kamu
akan tersenyum juga buat Anas? Jangan kekasihku biarkan senyum yang tadi itu
hanya untukku.
Perhimpunan
Pergerakan Indonesia (PPI), organisasi kemarin sore ini menggunakan nama mirip
dengan organisasi pemuda Indonesia di Belanda yang sempat dipimpin Bung Hatta,
Perhimpunan Indonesia (PI). Organisasi ini menyerukan Indonesia merdeka di
tanah Belanda. Apakah kamu tertarik dengan sejarah kekasihku?
Bulan setengah
mengintip ragu dari balik awan. Ternyata hari ini bukan hanya aku dan Anas yang
ragu, bulan pun ragu. Apakah kamu tersenyum melihat bulan kekasihku?
Desir angin malam
di teras kamar membuat aku teringat pantai. Tahukah kamu tentang PI selain
Perhimpunan Indonesia? Pantai Indah, sebuah restoran di depan pantai losari,
kamu pasti sering kesana,kelak aku akan mengajakmu ke sana, berdua melihat
bulan setengah yang tak lagi ragu, dan kita yang saling tersenyum.
Selamat tidur
kekasihku, bilang pada bibirmu, terima
kasih atas senyum hari ini.
07 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar