Kamis, 02 Januari 2014

Surat Kedua

Bagaimana kopi pertamamu di tahun ini?
Kopi pertamaku di tahun ini, tidak terlalu pahit dan sedikit agak manis, seperti kenangan dua kekasih yang terpisah karena emosi.

Hujan sepanjang hari, selimut rinduku tidak menambah hangat. Masukkah kamu kampus hari ini? aku rindu melihatmu berjalan denga gaya tomboymu, ah tapi pikiran ini langsung terbakar cemburu membayangkan kamu lagi duduk di samping kak Arman, kapan kalian putus?

Aku ingat menguping kisahmu, dari teman-teman di kampus saat lagi menuju aula Baharuddin Lopa, katanya kalian ribut di depan ruang senat, hanya karena kamu tidak jadi menemaninya malam tahun baru. Lelaki memang egois, tapi aku termasuk di antara mereka. Aku ini agak egois, tak mau juga aku kalah berdebat dengan siapapun, itu sejak SMU, aku ingat mengalahkan seseorang kawan dalam simulasi debat antropologi, apakah lumba-lumba itu berbudaya, padahal jika kawan itu jeli mestinya dia tetap berpegang pada kalimat budaya adalah hasil perbuatan manusia, aku lupa dasar pemikiranku yang jelas kini aku malu dengan itu, aku tak lebih dari pegacara-pengacara koruptor itu yang lupa pada tujuannya bagaimana menemukan kebenaran, tapi lebih kepada mencari kemenangan.

Masih hujan di luar, aku punya rencana ke pintu dua lalu berjalan menikmati sore di kampus merah, kubatalkan saja, aku memilih di sini memeluk aroma tentangmu dalam dekapan rindu.

Makassar, 02 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar