Hari ini, Koridor kampus terasa sunyi,
seorang teman tak hadir dan ini tak seperti biasanya, setelah mencari info
sana-sini, kami memutuskan ke rumahnya. Di rumah yang sangat sederhana itu ada
bendera putih dan terpal biru yang masih basah sisa hujan semalam, kaget bukan
kepalang saat tahu Ayahanda Bobby meninggal. Dia menyambut kami dengan seyuman dan
kami semua menghampirinya dengan pelukan.
Perpisahan, sebegitu pedihkah?
Seorang prajurit pergi meninggalkan keluarga
untuk selamanya. Ada tangis dari seorang wanita tua yang kudengar dari ruang di
rumah itu, ada nada pedih di sana.
Waktu adalah sebuah bom bagi pertemuan, tapi
dia juga adalah obat bagi perpisahan. Bukankah kita yang berpisah di dunia ini
akan bertemu di telaga al-kautsar kelak?. Aku tiba-tiba berpikir tentang kenapa
bayi menangis ketika pertama lahir, mungkin itu adalah sisa tangisan dari dunia
yang sebelumnya? Mungkin ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, kita juga
akan menangis di dunia yang baru, lalu kemudian tersenyum karena bertemu
kenalan-kenalan lama.
Aku dan kamu belum bertemu dalam jodoh, kamu
dan dia lagi menikmati cinta. Kelak jika kalian berpisah akan ada tangis di
matamu, tapi aku ingin kamu tahu kelak kamu akan mengenalku, lelaki yang
mencoba membingkai kembali senyummu.
Hari
ini aku menyadari perpisahan tak pernah bisa menjadi hal yang mudah, walau
itu untuk perpisahan yang kita harapkan. Aku belajar bahwa seriuh apapun
hiburan yang mengelilingi, perpisahan tetaplah menimbulkan kepedihan.
Ada hujan rintik yang membasahi bumi kala
senja, namun ada hujan yang lebih deras di mata sahabatku, tak terlukis dan tak
lewat air mata.
10 Januari 2014
NB : Tulisan ini buat Akbar Junaid, seingatku
Ayahmu meninggal di awal-awal tahun seperti ini. Alfatiha untuk beliau. Buat
Suardi Iskandar, selamat atas penugasannya di Palopo walau itu mungkin berarti
perpisahan, aku tak bisa menghiburmu sobat, karena seriuh apapun hiburan yang
mengelilingi, perpisahan tetaplah menimbulkan kepedihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar