Jumat, 10 Januari 2014

Surat Kesepuluh, tentang perpisahan



Hari ini, Koridor kampus terasa sunyi, seorang teman tak hadir dan ini tak seperti biasanya, setelah mencari info sana-sini, kami memutuskan ke rumahnya. Di rumah yang sangat sederhana itu ada bendera putih dan terpal biru yang masih basah sisa hujan semalam, kaget bukan kepalang saat tahu Ayahanda Bobby meninggal. Dia menyambut kami dengan seyuman dan kami semua menghampirinya dengan pelukan.

Perpisahan, sebegitu pedihkah?
Seorang prajurit pergi meninggalkan keluarga untuk selamanya. Ada tangis dari seorang wanita tua yang kudengar dari ruang di rumah itu, ada nada pedih di sana.

Waktu adalah sebuah bom bagi pertemuan, tapi dia juga adalah obat bagi perpisahan. Bukankah kita yang berpisah di dunia ini akan bertemu di telaga al-kautsar kelak?. Aku tiba-tiba berpikir tentang kenapa bayi menangis ketika pertama lahir, mungkin itu adalah sisa tangisan dari dunia yang sebelumnya? Mungkin ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, kita juga akan menangis di dunia yang baru, lalu kemudian tersenyum karena bertemu kenalan-kenalan lama.

Aku dan kamu belum bertemu dalam jodoh, kamu dan dia lagi menikmati cinta. Kelak jika kalian berpisah akan ada tangis di matamu, tapi aku ingin kamu tahu kelak kamu akan mengenalku, lelaki yang mencoba membingkai kembali senyummu.

Hari  ini aku menyadari perpisahan tak pernah bisa menjadi hal yang mudah, walau itu untuk perpisahan yang kita harapkan. Aku belajar bahwa seriuh apapun hiburan yang mengelilingi, perpisahan tetaplah menimbulkan kepedihan.

Ada hujan rintik yang membasahi bumi kala senja, namun ada hujan yang lebih deras di mata sahabatku, tak terlukis dan tak lewat air mata.
10 Januari 2014

NB : Tulisan ini buat Akbar Junaid, seingatku Ayahmu meninggal di awal-awal tahun seperti ini. Alfatiha untuk beliau. Buat Suardi Iskandar, selamat atas penugasannya di Palopo walau itu mungkin berarti perpisahan, aku tak bisa menghiburmu sobat, karena seriuh apapun hiburan yang mengelilingi, perpisahan tetaplah menimbulkan kepedihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar