Nikmat mana lagi yang akan kudustakan?.
Pagi di sini, di sebuah kampung di Soppeng,
sepelemparan batu dari tempat kelahiran lelaki yang kemudian menjadi pembebas
suku bugis, namun takkan pernah menjadi pahlawan resmi karena begitu banyak
kontroversi menyangkut jalinan kerjasamanya dengan VOC. Lelaki yang saya maksud
ialah Arung Palakka.
Segelas teh, pisang goreng, udara sejuk dan
tanpa bising kendaraan. Nikmat apa lagi yang akan aku dustakan. Sebuah
ketenangan yang sangat mahal harganya buat manusia-manusia kota seperti kita
yang terjebak waktu. Apa kabarmu hari ini kekasih? apakah kamu mencariku di
Aula tempak seharusnya kita bersama mengikuti ekstrakurikuler Gojukai? Jika
kamu mencariku bukankah itu artinya kamu merindukanku? Alangkah sebuah asa yang
akan membumbungkan diriku jauh melebihi batas semestinya.
Penduduk desa ini tenang, kasus Anas hanya
dibahas selewat saja, selebihnya lebih tentang curah hujan yang kian deras, dan
membuat jalanan semakin berlubang. Mereka tak ambil pusing dengan partai ini,
partai itu, yang ada bagi mereka yang akan mereka pilih ialah keluarga mereka,
kalau bukan bangsawan di antara mereka, orang yang
“baik hati” yang membelikan mereka sembako, “amplop” atau bahkan hanya
seperangkat alat shalat baru.Mereka tidak peduli apa itu visi misi, bagi mereka
janji hanyalah omong kosong pelengkap mimpi.
Saya tak bisa menyalahkan mereka, mengubah sebuah
pemikiran seperti ini hal yang tersulit. Bangsa ini memang didirikan dengan
kora-koar revolusioner Bung Karno, tidak dengan kemapanan pendidikan. Bung
Hatta berbeda pendapat dengan Bung Karno soal ini, bagi dia bangsa ini mesti
memulainya dengan pendidikan, makanya konsep ekonomi koperasi yang dibangunnya
ialah konsep ekonomi dari rakyat bawah, hal ini akan secara otomatis membuat
mereka menjadi terdidik setidaknya dalam segi ekonomi. Bung Hatta gagal
meyakinkan Bung Karno, bahkan beliau pun mesti kecewa saat anaknya
memperlihatkan buku tentang koperasi yang sangat berbeda dengan apa yang
dicetuskannya.
Kekasih, hujan rintik menambah kenikmatan
segelas teh ini. Aku merindukanmu seperti bangsa ini merindukan sosok Bung
Hatta. Pecinta sejati yang membebaskan negeri ini.
Takkalala, Soppeng 12 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar