Senin, 13 Januari 2014

Surat ke-12, Nikmat Apa Lagi yang Aku Dustakan?



Nikmat mana lagi yang akan kudustakan?.
Pagi di sini, di sebuah kampung di Soppeng, sepelemparan batu dari tempat kelahiran lelaki yang kemudian menjadi pembebas suku bugis, namun takkan pernah menjadi pahlawan resmi karena begitu banyak kontroversi menyangkut jalinan kerjasamanya dengan VOC. Lelaki yang saya maksud ialah Arung Palakka.

Segelas teh, pisang goreng, udara sejuk dan tanpa bising kendaraan. Nikmat apa lagi yang akan aku dustakan. Sebuah ketenangan yang sangat mahal harganya buat manusia-manusia kota seperti kita yang terjebak waktu. Apa kabarmu hari ini kekasih? apakah kamu mencariku di Aula tempak seharusnya kita bersama mengikuti ekstrakurikuler Gojukai? Jika kamu mencariku bukankah itu artinya kamu merindukanku? Alangkah sebuah asa yang akan membumbungkan diriku jauh melebihi batas semestinya.

Penduduk desa ini tenang, kasus Anas hanya dibahas selewat saja, selebihnya lebih tentang curah hujan yang kian deras, dan membuat jalanan semakin berlubang. Mereka tak ambil pusing dengan partai ini, partai itu, yang ada bagi mereka yang akan mereka pilih ialah keluarga mereka, kalau bukan bangsawan di antara mereka, orang yang  “baik hati” yang membelikan mereka sembako, “amplop” atau bahkan hanya seperangkat alat shalat baru.Mereka tidak peduli apa itu visi misi, bagi mereka janji hanyalah omong kosong pelengkap mimpi.

Saya tak bisa menyalahkan mereka, mengubah sebuah pemikiran seperti ini hal yang tersulit. Bangsa ini memang didirikan dengan kora-koar revolusioner Bung Karno, tidak dengan kemapanan pendidikan. Bung Hatta berbeda pendapat dengan Bung Karno soal ini, bagi dia bangsa ini mesti memulainya dengan pendidikan, makanya konsep ekonomi koperasi yang dibangunnya ialah konsep ekonomi dari rakyat bawah, hal ini akan secara otomatis membuat mereka menjadi terdidik setidaknya dalam segi ekonomi. Bung Hatta gagal meyakinkan Bung Karno, bahkan beliau pun mesti kecewa saat anaknya memperlihatkan buku tentang koperasi yang sangat berbeda dengan apa yang dicetuskannya.

Kekasih, hujan rintik menambah kenikmatan segelas teh ini. Aku merindukanmu seperti bangsa ini merindukan sosok Bung Hatta. Pecinta sejati yang membebaskan negeri ini.
Takkalala, Soppeng 12 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar