Rakyat kecil adalah rantai makanan terbawah
dalam republik ini.
Saya menelusuri jalan pulang hari ini,
terbayang sebuah mimpi tentang kamu yang ternyata menungguku lalu bertanya
kenapa telepon selularku tak aktif?, kenapa tak datang sabtu kemarin?. Sebuah
mimpi yang kelewatan, karena berbicara pun kita hanya selewat saja, sekedar
basa-basi menunggu hujan reda, selebihnya hanya senyuman sopan karena kita
berpapasan atau bertemu pandang.
Para petani lagi menikmati panen,kuda-kuda
membawa hasil panen. Ibu di samping saya berseloroh “tega benar kalau beli beras
masih ditawar, kerja mereka berat”, saya hanya menarik napas panjang dan
mengangguk. Saya membayangkan para petani itu, mereka akan tetap miskin karena
harga padi dinilai berdasarkan harga pasar, pemerintah setahuku tak mengatur
harga padi terendah yang mesti dibeli para pemilik modal dari para petani.
Pemilik modal yang kaya raya, mereka mengatur harga jual di pasaran, dan BULOG
akan selalu siap membeli beras yang mereka jual. Itu baru nasib para petani,
jangan tanya saya nasib mereka yang hanya jadi buruh tani, terbayang perihnya
pun saya tak sanggup. Namun sepanjang jalan yang saya lihat mereka tertawa dan
anak-anak yang bermain, mungkin hidup mereka telah memasuki level ikhlas
tingkat dewa. Saya iri pada mereka akan hal ini.
Selepas melewati mereka yang panen, mobil
yang saya tumpangi mulai ngebut. Saya yang duduk di belakang terpontang-panting
bagai karung-karung beras. Supirnya tak peduli akan kenyamanan penumpang, bagi
dia yang penting sampai tujuan dan setoran cukup buat sang pemilik kendaraan.
Saya tak mungkin menyalahkan dia, karena begitulah rantai ekonomi di negara
ini.
Malam baru menyentuh bumi, kota Makassar
menyambut dalam rintik dan genangan di sana-sini. Aku mencari senyummu kekasih,
namun yang kutemukan adalah senyum ikhlas mereka, rakyat kecil yang ikhlas
menjalani hidup.
Bila kelak kau bukan untukku, setelah semua
usaha yang kutempuh, pada mereka aku akan kembali untuk mengingat makna ikhlas
Makassar, 13 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar