Senin, 13 Januari 2014

Surat Ke-13, Rakyat Kecil Rantai Makanan Terbawah di Republik ini



Rakyat kecil adalah rantai makanan terbawah dalam republik ini.
Saya menelusuri jalan pulang hari ini, terbayang sebuah mimpi tentang kamu yang ternyata menungguku lalu bertanya kenapa telepon selularku tak aktif?, kenapa tak datang sabtu kemarin?. Sebuah mimpi yang kelewatan, karena berbicara pun kita hanya selewat saja, sekedar basa-basi menunggu hujan reda, selebihnya hanya senyuman sopan karena kita berpapasan atau bertemu pandang.

Para petani lagi menikmati panen,kuda-kuda membawa hasil panen. Ibu di samping saya berseloroh “tega benar kalau beli beras masih ditawar, kerja mereka berat”, saya hanya menarik napas panjang dan mengangguk. Saya membayangkan para petani itu, mereka akan tetap miskin karena harga padi dinilai berdasarkan harga pasar, pemerintah setahuku tak mengatur harga padi terendah yang mesti dibeli para pemilik modal dari para petani. Pemilik modal yang kaya raya, mereka mengatur harga jual di pasaran, dan BULOG akan selalu siap membeli beras yang mereka jual. Itu baru nasib para petani, jangan tanya saya nasib mereka yang hanya jadi buruh tani, terbayang perihnya pun saya tak sanggup. Namun sepanjang jalan yang saya lihat mereka tertawa dan anak-anak yang bermain, mungkin hidup mereka telah memasuki level ikhlas tingkat dewa. Saya iri pada mereka akan hal ini.

Selepas melewati mereka yang panen, mobil yang saya tumpangi mulai ngebut. Saya yang duduk di belakang terpontang-panting bagai karung-karung beras. Supirnya tak peduli akan kenyamanan penumpang, bagi dia yang penting sampai tujuan dan setoran cukup buat sang pemilik kendaraan. Saya tak mungkin menyalahkan dia, karena begitulah rantai ekonomi di negara ini.

Malam baru menyentuh bumi, kota Makassar menyambut dalam rintik dan genangan di sana-sini. Aku mencari senyummu kekasih, namun yang kutemukan adalah senyum ikhlas mereka, rakyat kecil yang ikhlas menjalani hidup.

Bila kelak kau bukan untukku, setelah semua usaha yang kutempuh, pada mereka aku akan kembali untuk mengingat makna ikhlas

Makassar, 13 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar