Udara begitu panas siang ini, tak ada romantisme
hujan, mungkin itu yang membuat aku begitu emosi.
Prioritas!, entah kapan manusia-manusia di dunia
ini mengenalnya, saya sendiri mengenalnya mungkin waktu SD, saat belajar
Pendidikan Kewarganegaraan. Kepentingan negara di atas kepentingan golongan,
kepentingan golongan di atas kepentingan pribadi, begitu mudah berteori tapi
ternyata begitu sulit menerapkan.
Berapa hubungan yang berakhir yang terjadi karena
masalah prioritas? Seorang pacar yang gagal menjadikan pasangannya sebagai
prioritas dalam hidupnya adalah awal dari kehancuran sebuah hubungan. Apakah
kelak kamu akan begitu kekasih? Aku harap tidak.
Saat dalam keadaan emosi seperti ini, cinta bagiku
hanya omong kosong yang indah. Kita terlalu sering mendengar tentang seorang lelaki
yang berselingkuh karena jauh dari pasangan, seorang suami yang menikah
diam-diam karena sang istri tak bisa menemaninya atau kisah seorang perempuan
yang terlalu sibuk dengan dunianya hingga melupakan bahwa dia punya seorang pasangan
yang mestinya dia temani menjalani dunia, dan mungkin seorang istri bekerja yang
lebih takut mengecewakan atasannya ketimbang suaminya.
Kemana cinta yang mereka sanjung dulu, saat pertama
bersama cinta adalah prioritas mereka, lalu mereka terbentur dengan keinginan
dunia. Pandangan dunia bahwa kesusksesan adalah ketenaran dan materi membuat
mereka berburu dan tak pernah merasa cukup dengan hasil buruannya , hingga melupakan
cinta dan saling membahagiakan pasangan mestinya menjadi prioritas mereka. Mereka
terlalu jauh masuk ke dunia hutan materi, tersesat dalam gelap dan lupa jalan
menuju prioritas mereka, bahkan di kemudian hari ada yang mengganti
prioritasnya menjadi bagaimana terlihat sukses,terkenal, punya mobil, rumah,
dan lainnya.
Terlalu patriarkikah aku kekasih? mungkin menurutmu
cinta itu pada akhirnya adalah pengertian, sang lelaki mesti mengerti dengan
jarak, sang suami mesti sadar bahwa tidak semua wanita mau jadi gadis desa, seorang
wanita wajar jika berkarir. Aku bukanlah anti akan pengertian dan semua itu,
tapi bagiku prioritas adalah sesuatu yang mestinya dipahami dalam sebuah
hubungan, ketika pacarmu perlu teman bicara, sedang teman-temanmu butuh teman jalan-jalan,
maka prioritasmu adalah apa yang menjadi kebahagiaanmu, jika pilihanmu adalah
bahagia dengan teman-temanmu maka pacarmu bukanlah prioritas, jangan lanjutkan
hubungan dengan menyakitinya.
Prioritas yang lebih kompleks menyergapku hari ini,
Umar dan Jack marah bukan kepalang. Bulan lalu kamu membentuk sebuah forum
kajian, kami menyebutnya FKIH (Forum Kajian Ilmu Hukum), tak ada yang bersedia
jadi ketua saat itu, kami bentuk semacam dewan presedium tugasnya merumuskan
konsep organisasi dan menentukan tata cara pemilihan ketua. Hari ini mestinya
saya ada di rapat dewan presidium itu, tapi saya tak hadir karena pada saat
yang sama saya memilih ke Pangkep buat lihat lokasi yang rencana jadi tempat
silaturrahmi pertama angkatanku, saya panitia acara tersebut. Umar menudingku
tak menepati janji, Jack lebih memilih diam tapi saya tahu dia kecewa. Saya
sadari semua itu, tapi saya telah memutuskan prioritasku dan jika mereka
memutuskan saya buat keluar dari dewan presidium, tak akan ada yang saya salahkan.
Cuaca mendung lagi kekasih, semoga hujan turun, dan
aku bisa menikmati aroma tanah selepas hujan, setidaknya itu bisa
menenangkanku.
Pada akhirnya kita harus memilih, dan apapun itu
aku ingin kamu tahu kamu adalah pilihan pertamaku.
08 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar