Manusia-manusia seperti kita membutuhkan
piknik.
Hari ini saya memutuskan ke Soppeng, bukan
karena saya termasuk golongan yang kecewa Anas akhirnya ditahan, tapi lebih
karena manusia-manusia seperti kita membutuhkan menepi dari rutinitas kota yang
menjemukan.
Buat apa kecewa karena Anas ditahan. Bagi
saya dia tak lebih dari para penipu lainnya, dia tak pernah melanjutkan
“lembaran pertama” dari bukunya yang kabarnya akan membuat heboh Partai Demokrat,
dia hanya berkata katanya, katanya, dan katanya tanpa bukti. Apakah kau kecewa
Anas yang mantan tokoh HMI itu ditahan? Kupikir tidak, mungkin kamu malah lebih
kecewa ketika LHI di vonis bersalah.
Jalanan ke Soppeng saat melewati wilayah
Tanete Riaja, Barru rusak parah, kubangan air dan lubang yang menganga begitu
banyak. Seingatku terakhir ke sini, setahun yang lalu jalanan tak separah ini.
Dulu wilayah Sulawesi dan wilayah timur lainnya tertinggal karena Soeharto
hanya memprioritaskan membangun Jawa, kini kita betul-betul tertinggal karena
kita sendiri yang gagal mengelola infrastruktur kita. Jangan menyalahkan hujan,
salah apa air dan romantismenya? Salahkan kita yang tak pernah siap menyambut
kedatangannya. Seperti seorang kekasih yang mengaku rindu, tapi ketika yang
terkasih datang dia mengabaikannya.
Terkadang saya sering berpikir andai jalan-jalan itu
dikelola dengan benar, di bangun dengan benar, dirawat dengan benar, mestinya
anggaran yang kemudian di pakai untuk membiayai perbaikan jalan yang itu-itu
lagi, kini sudah menjalani jalan yang layak
buat beberapa jalan yang lain yang belum tersentuh aspal yang layak.
Namun apakah petani-petani desa
memikirkan hal itu? Sepertinya tidak, mereka adalah makhluk-makhluk yang
menyatu dengan alam, tak pernah mengeluhkan alam, mereka menerima apapun itu
dengan lapang dada, bagi mereka yang penting bisa makan walau itu nasi jagung
atau sekedar ubi rebus. Para mahasiswa seperti kitalah yang mesti mengingat dan
memperjuangkan mereka, apalagi para mahasiswa yang lahir dari rahim desa-desa
itu.
Namun yang terjadi kita yang lahir dari rahim
desa-desa itu lebih tertarik pada kasus-kasus kota, lupa bagaimana para
pemimpin-pemimpin di kampung kita telah menjadi raja kecil yang menganggap APBD
sebagai kantung pribadi mereka. Lupakan sejenak mega proyek Hambalang, biar
teman-teman di jawa yang mengurusnya, mari kita berpikir bagaimana menyeret
para raja-raja kecil di kampung kita yang tak bisa membedakan APBD dan kas
keluarga mereka ke tali “gantungan”. Nanti jika memang hukum di pusat sana
keblinger lagi, baru kita menyatukan kekuatan. Sekarang mestinya para aktivis
kampus berpikir soal desa-desa yang melahirkan mereka. Sayang seribu sayang di
antara para aktivis itupun terkadang ada yang tak lebih dari sekedar cari
panggung semata, memanfaatkan catatan sejarah organisasinya untuk dekat dengan
senior-senior yang lebih dulu berhasil, lalu masuk ke birokrat dan menjadi raja
kecil yang lupa tentang coleteh-coleteh mereka di koridor kampus maupun yang di
jalanan.
Anas mungkin telah menjadi aktivis yang lupa
itu, kekasih.
Tak ada hujan rintik di sini, namun cuaca
dingin perlahan membawa rindu, semoga aku kelak tak pernah menjadi kekasih yang
melupakanmu
Takalala, Soppeng 11 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar