Senin, 13 Januari 2014

Surat Kesebelas, Tentang Para "Aktivis" Mahasiswa



Manusia-manusia seperti kita membutuhkan piknik.
Hari ini saya memutuskan ke Soppeng, bukan karena saya termasuk golongan yang kecewa Anas akhirnya ditahan, tapi lebih karena manusia-manusia seperti kita membutuhkan menepi dari rutinitas kota yang menjemukan.

Buat apa kecewa karena Anas ditahan. Bagi saya dia tak lebih dari para penipu lainnya, dia tak pernah melanjutkan “lembaran pertama” dari bukunya yang kabarnya akan membuat heboh Partai Demokrat, dia hanya berkata katanya, katanya, dan katanya tanpa bukti. Apakah kau kecewa Anas yang mantan tokoh HMI itu ditahan? Kupikir tidak, mungkin kamu malah lebih kecewa ketika LHI di vonis bersalah.

Jalanan ke Soppeng saat melewati wilayah Tanete Riaja, Barru rusak parah, kubangan air dan lubang yang menganga begitu banyak. Seingatku terakhir ke sini, setahun yang lalu jalanan tak separah ini. Dulu wilayah Sulawesi dan wilayah timur lainnya tertinggal karena Soeharto hanya memprioritaskan membangun Jawa, kini kita betul-betul tertinggal karena kita sendiri yang gagal mengelola infrastruktur kita. Jangan menyalahkan hujan, salah apa air dan romantismenya? Salahkan kita yang tak pernah siap menyambut kedatangannya. Seperti seorang kekasih yang mengaku rindu, tapi ketika yang terkasih datang dia mengabaikannya.

Terkadang saya  sering berpikir andai jalan-jalan itu dikelola dengan benar, di bangun dengan benar, dirawat dengan benar, mestinya anggaran yang kemudian di pakai untuk membiayai perbaikan jalan yang itu-itu lagi, kini sudah menjalani jalan yang layak  buat beberapa jalan yang lain yang belum tersentuh aspal yang layak. Namun apakah petani-petani desa  memikirkan hal itu? Sepertinya tidak, mereka adalah makhluk-makhluk yang menyatu dengan alam, tak pernah mengeluhkan alam, mereka menerima apapun itu dengan lapang dada, bagi mereka yang penting bisa makan walau itu nasi jagung atau sekedar ubi rebus. Para mahasiswa seperti kitalah yang mesti mengingat dan memperjuangkan mereka, apalagi para mahasiswa yang lahir dari rahim desa-desa itu.

Namun yang terjadi kita yang lahir dari rahim desa-desa itu lebih tertarik pada kasus-kasus kota, lupa bagaimana para pemimpin-pemimpin di kampung kita telah menjadi raja kecil yang menganggap APBD sebagai kantung pribadi mereka. Lupakan sejenak mega proyek Hambalang, biar teman-teman di jawa yang mengurusnya, mari kita berpikir bagaimana menyeret para raja-raja kecil di kampung kita yang tak bisa membedakan APBD dan kas keluarga mereka ke tali “gantungan”. Nanti jika memang hukum di pusat sana keblinger lagi, baru kita menyatukan kekuatan. Sekarang mestinya para aktivis kampus berpikir soal desa-desa yang melahirkan mereka. Sayang seribu sayang di antara para aktivis itupun terkadang ada yang tak lebih dari sekedar cari panggung semata, memanfaatkan catatan sejarah organisasinya untuk dekat dengan senior-senior yang lebih dulu berhasil, lalu masuk ke birokrat dan menjadi raja kecil yang lupa tentang coleteh-coleteh mereka di koridor kampus maupun yang di jalanan.

Anas mungkin telah menjadi aktivis yang lupa itu, kekasih.
Tak ada hujan rintik di sini, namun cuaca dingin perlahan membawa rindu, semoga aku kelak tak pernah menjadi kekasih yang melupakanmu
Takalala, Soppeng 11 Januari 2014  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar