Sabtu, 04 Januari 2014

Surat ke-empat



Selamat malam minggu,
Malam minggu pertama di tahun 2014, dan syukurlah hujan.

Sesungguhnya doa orang teraniaya dikabulkan Tuhan, begitu kira-kira ujar para alim ulama. Hujan adalah jawaban doa mereka, mungkin Tuhan kasihan pada mereka yang begitu teraniaya sejak zaman sosial media menjadi trend, apalagi jika yang berdoa itu adalah para jomblo merangkap fans Manchester United dan AC Milan.
Soal gas elpiji kemarin, belum ada aktivis kampus yang berteriak dan berdemo, mungkin telinga mereka masih pekak oleh bunyi petasan tahun baru, atau bisa jadi mereka masih tertidur dalam lelah usai pesta.Semoga saya salah.

Saya tak ingin mengkritik kawana-kawan aktivis,tiap orang berhak memilih jalan perjuangan mereka. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Jenderal Sudirman, Amir Sjafruddin dll masing-masing punya jalan yang berbeda, tapi mereka satu dalam tujuan Indonesia merdeka, walau fakta sejarah menulis bahwa setelah merdeka mereka saling tikam, itulah liku perjuangan, itulah dunia pergerakan sesungguhnya. Kawan-kawan aktivis ini pun akan berada pada fase-fase itu, berbeda dalam pola perjuangan tapi bertujuan menyerang rezim yang sama, setelah masa itu berlalu di antara mereka pun bisa jadi ada saling tikam.

Pacarmu seorang aktivis, surat ini menjadi tak beguna lagi pikirku, kuakhiri saja, aku khawatir saat membacanya kamu malah mengingatnya bukan mengingatku.

Lagu Geisha mengalun pelan,lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia, kuingin kulupakannya. Kelak aku atau kau yang menyanyikan lagu itu, aku harap itu kau dan itu tentang hubunganmu dan dia.
Makassar, 04 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar